Pemerintah Pusat Jamin Proyek GEOTHERMAL WAE SANO Aman bagi Masyarakat

Sotarduganews, Flores — Pemerintah Pusat melalui R. Yando Zakaria, Anggota Tim Penasihat Senior pada Kantor Staf Presiden Republik Indonesia menegaskan komitmen Pemerintah Pusat bahwa, Proyek Geothermal di Wae Sano Manggarai Barat tidak akan mengganggu keberadaan pemukiman/kampung dan kehidupan di dalamnya. Tidak juga mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk sistem pertanian Lingko dan sekitarnya.

Komitmen yang ditegaskan Yonda Zakaria pada pertemuan di Ruteng Jumat (18/09/2020) itu sesungguhnya menjawab keberatan Gereja Katolik Ruteng yang disampaikan Yang Mulia Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat atas poin-poin yang sebelumnya sudah disampaikan lewat surat kepada Presiden RI, Joko Widodo pada 09 Juni 2020 silam. Demikian Siaran Pers yang ditandatangani Pastor Dr. Martin Chen, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Rueng dan R. Yonda Zakaria perwakilan Pemerintah Pusat yang diterima Sotarduganews Sabtu, 19 September 2020.

Adapun keberatan yang disampaikan Uskup Siprianus adalah, Proyek Geothermal Wae Sano berpotensi destruktif bagi hak hidup dan keselamatan warga serta ruang hidupnya, seperti tanah, mata air, lahan pertanian dan perkebunan. Proyek itu dapat pula merusak situs dan komunitas adat setempat, serta situs rohani dan kenyamanan peribadatan Gereja Katolik. Lebih dari itu, dapat juga berpotensi merusak danau Sano Nggoang dan ekosistem di sekitarnya.

Selain dua poin di atas, pertemuan lintas sektor yang menghadirkan Gereja Katolik Ruteng, Pemda Manggarai Barat-NTT, Kementerian ESDM dan Pengusaha dari PT. SMI dan PT. Geo Dipa itu pun, Zakaria menyatakan Pemerintah Pusat berkomitmen terlibat penuh dalam pengelolaan situs warisan budaya dan/daerah keramat, seperti pengelolaan dampak negatif dan positif, termasuk pelatihan untuk masyarakat jika terjadi kecelakaan kerja. Juga ada pula Pelaksanaan Community development/ program CSR.

Penegasan komitmen Pemerintah Pusat tersebut menyusul pemaparan lebih teknis kementerian ESDM oleh Sahat Simangunsong. Sahat menyajikan latar belakang proyek Geothermal, yakni kebutuhan energi listrik yang stabil dan berkelanjutan dari sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Proyek tersebut bertujuan memanfaatkan potensi 45 MW energi panas bumi untuk mensuplai kebutuhan puluhan ribu rumah tangga dan industri, khususnya dari sektor pariwisata. Di sisi lain Proyek itu juga bakal meningkatkan perekonomian masyarakat dan memperluas lapangan kerja.

Bertolak dari latar belakang dan niat baik serta komitmen Pemerintah Pusat itu, rapat bersepakat akan mengupayakan penyelesaian yang komprehensif dan memuaskan para pihak terhadap beberapa soal mendasar, seperti lokasi well Pad dan slim hole (pemboran), tempat pembuangan limbah, potensi gangguan terhadap danau dan ekosistemnya.

Rapat akhirnya sampai pada kesimpulan lebih konkrit yakni, Tim Pemerintah Pusat dan Keuskupan Ruteng bersepakat untuk bekerja sama dalam menangani persoalan yang ada secara holistik dan memuaskan para pihak. Untuk itu perlu dan pentingnya komunikasi dan informasi yang benar, transparan dan jujur. Ada pula mekanisme penanganan masalah yang dialogal dan partisipatif sehingga perlu diadakan dialog dengan semua pihak khususnya dengan warga Wae Sano.

Hal lain yang disepakati adalah Pentingnya pemulihan integrasi dan perdamaian dalam masyarakat lokal, Mutlaknya pendalaman bersama tentang dampak positif maupun negatif dari proyek, Perlunya kerja sama yang dipayungi oleh kesepakatan tertulis yang mengikat dengan mekanisme kerja yang mantap serta rencana aksi yang tepat. Segala upaya kerja sama tersebut bertujuan demi terwujudnya pembangunan yang holistik dan berkelanjutan serta terarah kepada kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch. Dula yang dihubungi secara terpisah menyatakan bahwa Pemkab Manggarai Barat dari awal sangat setuju dengan maksud dan tujuan Pemerintah Pusat tersebut. Karena itu harus diawali dengan Sosialisasi, edukasi dan komunikasi. “Dan ini sudah dilaksanakan dan diterima masyarakat”, kata Bupati Dula melalui Whatsap kepada Sotarduganews, Minggu (20/09/2020).

Menurut Bupati Dula, yang dilihat Pemkab adalah tujuannya Geothermal ini, karena mampu mengoptimalisasi daya 45 MWsehingga sudah pasti sangat suport energi terhadap Pariwisata Manggarai Barat atau Flores, khususnya Industri Pariwisata.

Proyek tersebut, lanjut bupati dua periode itu, bahwa ada kesan destruktif betul, tetapi sudah dijelaskan oleh Tim Pusat bahwa tidak ada destruktif dan Pemerintah Pusat siap bertanggung jawab tehadap dampak negatif sebgaimana tertuang dalam rekomendasi tanggal 18 Sept 2020 di Ruteng. Dengan demikian menjadi nyata bahwa Destinasti Pariwisata Super Premium di Labuan Bajo itu tidak sekedar wacana tetapi ada tindak lanjut nyata Pemerintah Pusat mengoptimalisasi potensi alam yang berbarengan dengan pembangunan infrastruktur demi terwujudnya cita-cita besar bangsa itu.

“Jadi Pariwisata Super Prioritas di Mabar ini tidak sekedar berita atau publikasi tetapi ditindak lanjuti dengan Optimalisasi potensi alam yang ada dan kedepan nya didukung oleh infrastruktur yang memadai dan kehadiran Listrik sangat dibutuhkan”, tutup Bupati Agustinus mengakhiri pesannya.

Penulis : bernad

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.