Natalan Flobamora Bojonggede, Uskup Paskalis: Dimana Gereja Berada Di Sana Selalu Ada Orang Flobamora

Sotarduganews, Bogor – Warga Katolik Flobamora Bojonggede dan sekitarnya mengenang Kelahiran Yesus Kristus dan menyongsong Tahun Baru dengan mengadakan perayaan Natal dan Tahun Baru bersama di lahan persiapan Gereja St. Faustina Bojonggede pada hari Minggu (12/01/2020).

Perayaan syukur Natal dan Tahun Baru bersama yang mengambil tema “Jadilah Keluarga Flobamora Bojonggede yang Injili, Misioner, Peduli dan Cinta Alam” itu diawali dengan Ekaristi Kudus secara konselebrasi dengan selebran utama uskup asal Flobamora, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Keuskupan Sufragan Bogor didampingi Romo Gusty Bahang, Pr.

Lebih dari 300 umat Katolik yang ambil bagian dalam perayaan tersebut tidak semuanya berasal dari Flobamora tetapi juga tamu undangan dari tokoh Katolik seperti Ketua wilayah Santo Yohanes Pembaptis Bojonggede dan ketua-ketua lingkungan, serta beberapa umat yang lain seperti pihak keamanan dari Polri dan TNI yang berjaga, juga unsur pemerintah dari RT-RW sekitar.

Dalam khotbahya, Uskup Paskalis mengatakan, di mana gereja berada di sana selalu ada orang Flobamora. Seperti kata seorang teman Uskup di Kalimantan misalnya, di mana pun dirinya berada selalu menemukan orang Flobamora. Karena itu, jika tidak menemukan orang Flobamora berarti ada sesuatu yang kurang. Dan di sana orang Flobamora selalu menampilkan kekhasannya sebagai orang Flobamora yang senantiasa membangkitkan kenangan.

Karenanya Uskup Syukur meminta kepada umat Flobamora Bojonggede agar selalu mencintai Gereja. “Di manapun kita berada dan kemana pun kita pergi harus terus mencintai Gereja Katolik karena Gereja membawa sesuatu yang positif,” ujarnya.

Sebagai orang Flobamora, tambah Uskup Bruno, dirinya meminta umat Flobamora Bojonggede untuk membangkitkan memori atau kenangan religius dalam kehidupan setiap hari. Kenangan religius semasa kecil, saat berada di tanah Flores, Lembata, Sumba, Timor, Alor dan Adonara seperti berdoa dan selalu melakukan tanda salib sebelum memulai suatu pekerjaan.

“Tugas kita sekarang ini adalah menciptakan memori religius sehingga pada saat tertentu kenangan itu dibangkitkan kembali. Seperti tanda salib pertama pada saat seseorang dibaptis. Melalui tanda salib itu kita percaya pada Bapa, Putera dan Roh Kudus” pintanya mengingatkan.

Kenangan semasa kecil itu harus terus dibangkitkan dalam kehidupan setiap hari. Karena itu, mantan Provinsial Saudara Dinah Indonesia ini juga meminta umat Flobamora Bojonggede agar mewarisi tanda salib tersebut kepada anak-anak. “Kita harus mewariskan iman Katolik dengan membuat tanda salib di dahi anak-anak kita. Tentu anak akan bertanya-tanya. Lebih baik membuat anak-anak bertanya akan imannya daripada tidak sama sekali. Mudah-mudahan Katolik merupakan DNA kita yang berasal dari Flobamora,” kata Uskup Syukur.

Selain tanda salib, tambah Uskup Bruno, satu hal lagi yang selalu ditampilkan umat Flobamora yaitu seni budaya. Lagu-lagu Gereja yang berasal dari berbagai budaya yang ada di Flobamora. Misalnya lagu Tuhan Kasihani Kami dari Lamaholot, Flores Timur yang kini mendunia.

Menurut Uskup Bogor ini, dengan menyanyikan lagu tersebut, membuat kenangan akan tanah leluhur dibangkitkan kembali.

“Memori itu mengingatkan sesuatu di tanah asal. Hal seperti itu perlu kita tonjolkan. Tentu anak-anak kita sekarang tidak mempunyai ingatan atau memori tersebut. Karena itu, hal itu perlu kita bangkitkan dalam diri anak-anak kita,” ajaknya.
Selain itu Uskup Paskalis mengingatkan agar seorang Katolik harus selalu hidup dalam persekutuan dengan umat Allah yang lainnya. “Hal itulah yang membangkitkan solidaritas kita sebagai sesama, yang mengatasi semua perbedaan yang ada”, katanya.
Uskup Bruno juga mengajak umat yang hadir untuk senantiasa melakukan pertobatan. “Karena dengan pertobatan, komitmen kita untuk berperan dalam menghidupan gereja Katolik akan terus terjadi”, ujar Uskup Paskalis mengakiri kotbanya.

Selain Uskup Paskalis, Thomas Ataladjar selaku ketua panitia perayaan tersebut mengawali sambutannya dengan mengisahkan sejarah dimulainya kekeristenan di wilayah Bojonggede pada tahun 1696 masa Gubernur Jendral VOC, J. Camphuys melalu pejabat pengadilan VOC, Cornelis Chastelein yang membuka perkebunan mulai dari Srengseng, Pondok Cina, Depok, Citayam hingga Bojonggede.

Demi menggarap lahannya Cornelis mendatangkan tenaga kerja dari mana-mana, termasuk dari Timor dan Rote. Menjelang ajalnya pada 13 Maret 1714 bapak pendiri DEPOK ini membebaskan semua pekerjanya berjumlah 120 orang yang berstatus ‘budak’ menjadi manusia merdeka yang melebur ke dalam 12 marga yakni: Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soedira dan Zadokh. Zadohk sudah punah, sisa 11 marga lainnya yang masih ada saat ini yang dikenal dengan Belanda Depok.

Menurut catatan tersebut, mantan seminaris Lembata ini memastikan bahwa sejak tahun 1696 sudah ada orang Flobamora menjadi penghuni wilayah Bojonggede, dan tapak awal umat Katolik mulai ditorehkan pada tahun 1970-an di mana ada sejumlah guru SD Impres beragama katolik ditempatkan di Bojonggede. “Bersama beberapa warga katolik lainnya hingga berjumlah 12 KK mereka menjadi perintis atau ‘rasul perdana’ di Bojonggeda, dan baru pada 20 Oktober 1997 Wilayah Bojonggede secara resmi berdiri, dalam misa syukur yang dipersembahkan oleh Romo Y. Suradi, di rumas seorang umat asal Flobamora…”, tulis Thomas.

Saat ini, menurut catatan Ataladjar, Wilayah Bojonggede sudah berkembang menjadi 13 lingkungan dengan jumlah umat sudah lebih dari 2000 jiwa, yang didalamnya ada sekitar 60-70 KK dengan jumlah sekira 100 OMK asal Flobamora.

Di hadapan Uskup Paskalis dan lebih dari 300 peserta yang hadir di acara Natal dan Tahun Baru bersama ini, selain ucapan terimakasih atas partisipasi dan permohonan maaf jika ada kekurangan, penulis senior ini pun menantang dengan satu pertanyaan,”Setelah pesta dan perayaan ini, lantas apa?”. Thomas ternyata tidak ingin membiarkan pertanyaannya itu menggelinding bagai bola liar sehingga langsung memnajwabnya demikian:

  1. Gereja umat Allah harus terus dibina dan dikembangkan. Untuk itu butuh SDM yang mumpuni dan punya spirit melayani, terutama dalam menyongsong Wilayah ini menjadi sebuah paroki mandiri yang khas.
  2. Pembangunan fisik gedung gereja yang khas katolik, yang tengah dan terus diperjuangkan.
  3. Menterjemahkan tema perayaan kita hari ini, dank omit mewujudkannya dalam kehidupan menggereja sehari-hari.

Penulis: bern

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.