Kependudukan Lewokeda, Janji Tak Berujung

Sotarduganews, Adonara – Sekitar 26 Kepala Keluarga dan lebih dari 100 jiwa masyarakat Lewokeda yang mendiami pemukiman baru di ujung barat wilayah kecamatan Ile Boleng, hingga hari ini belum mendapatkan identitas kependudukan pasti lantaran belum memiliki desa definitif. Tapi ironisnya, setiap kali ada Pemilihan Umum entah Pileg pun Pilkada, mereka mendapat ‘kehormatan’ satu TPS langsung dari Kecamatan Ile Boleng.

Dikisahkan bahwa sejak tahun 2007 penduduk Lewokeda ini diminta menempati pemukiman ‘Lewokeda Baru’ oleh Bupati Simon Hayon dan dijanjikan akan menjadi desa definitif pada bulan April 2012. Namun janji itu tidak pernah terealisasi, bahkan sampai hari ini. Alasannya tidak memenuhi syarat sebagai desa.

Ketika pemerintahan berganti, tahun 2018 oleh Wakil Bupati Agustinus Payong Boli, mereka disarankan membuat usulan untuk masuk desa Helan Langowuyo. Usulan pun dibuat. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Flores Timur turun membuat perekaman data kependudukan di Lewokeda. Kepala Dinas Marianus Nobo Waton. SE. memimpin langsung kegiatan tersebut.

Setelah lebih dari satu tahun ternyata data-data yang sudah direkam tahun 2018 itu tidak kembali dalam bentuk ID, sebagai warga negara yang baik, tanggal 11 Agustus 2020 Hironimus Kia Demon ( Roni) dengan beberapa warga Lewokeda lainnya menyambangi Dinas Kependudukan untuk mengambil dokumen kependudukan yang sudah diproses sebelumnya. Mereka diterima dan dilayani dengan baik layaknya warga Negara yang lain. Perasaan sebagai ‘warga Negara yang sah’ seakan kian mendekat tatkala mereka diminta memilih dokumen mana yang mendesak untuk dicetak terlebih dahulu karena kekuarangan belangko untuk dapat mencetak semua dokumen secara serentak.

Proses cetak dokumen sesuai pilihan mereka dijalankan, dan mereka pun mendapatkannya. Akan tetapi ketika semua dokumen sudah di tangan mereka, tanpa ba bi bu Kadis minta untuk dikembalikan lagi dan kepada Roni dan kawan-kawan disampaikan bahwa dokumen data kependudukan mereka tidak boleh dibawa dan belum boleh diurus lebih lanjut. Roni kemudian diajak masuk ke ruang Kadis. Kadis menelpon minta pertimbangan pada seseorang tetapi tetap tidak dipebolehkan.

“Setelah semua dokumen diminta kembali, saya dipanggil masuk ruangan Kadis. Kadis lalu menelpon minta pertimbangan kepada seseorang yang saya tidak tau, tetapi orang itu tetap tidak membolehkan kami bawa dokumen itu”, tutur Roni saat ditemui Sotarduganews di Lewokeda, (18/08/2020).

Kadis Dukcapil ketika ditemui keesokan harinya 09 Agustus 2020 membenarkan ikhwal penarikan kembali dan ditahannya dokumen kependudukan masyarakat Lewokeda tersebut. Menurut Kadis, Dinas Dukcapil tugasnya membereskan semua dokumen kependudukan. Bahkan pihaknya harus proaktif mencari dan memproses data warga. Namun untuk Lewokeda ada pertimbangan lain.

“Dinas Dukcapil tugasnya membereskan semua dokumen kependudukan. Bahkan pada prinsipnya kita yang proaktif mencari. Tapi untuk Lewokeda ini…ada pertimbangan lain dari Pemda”, ujar Kadis seraya meminta bertemu langsung dengan Asisten 1 atau Sekda supaya lebih jelas.

Tak ingin ketinggalan kereta, Sotarduganews langsung meluncur menemui Sekda Flotim, Paulus Igo Geroda dan Sekda pun membenarkan hal itu. Menurut Sekda Igo, dokumen tidak boleh diurus dulu sebelum ada kepastian status. “Mereka masuk wilayah kecamatan dan desa mana. Kami akan upayakan secepatnya”, kata Sekda menutup pertemuan itu.

Yohanes Saku alias Jois, tokoh masyarakat Lewokeda lainnya menjelaskan bahwa sejak 2007 mereka menempati pemukiman, mereka dibawa binaan kabupaten sampai bulan April 2012. Tetapi setelah lepas dari binaan kabupaten mereka tidak dijadikan desa definitif. Mereka dilepas begitu saja. Dokumen kependudukan yang mereka miliki biasanya diurus dengan nebeng ke desa lain.

Menurut Jois, proses situ pun berlanjut dan bertahan sampai ada arahan dari Wabub Agus Boli untuk diusulkan menjadi bagian desa Helan Langowuyo. “Setelah lepas dari binaan kabupaten kami dilepas begitu saja tanpa ada arahan ke mana dan bagaimana selanjutnya. Baru pada tahun 2018 atas arahan Wabup Agus Boli, kami didaftar sebagai penduduk Desa Helan Langowuyo. Hingga hari ini kami bagai anak ayam kehilangan induk”, tutup Jois.

Penulis : Beda
Editor. : bern

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.