Harga Kedelai Melonjak, Pengusaha Tahu Menjerit

Sotarduganews, Depok — Naiknya harga kedelai import yakno dari 6 ribu sampai 7 ribi kemudian melonjak naik menjadi 9 ribu 200 per kilo tak membuay pengusaha tahu menjerit, imbasnya dari biasanya pee hari para pemgusaha tahu yang sehari bisa memproduksi tahu bisa 1,5 kuintal, koni akibat dari melonjaknya harga kedelai tersebut mereka hanya bisa memproduksi 3/4 dari biasanya.

H. Romly, Korlap SPTI

Tidak hanya harga kedelai import yang naik, tapi harga minyak goreng pun ikut naik, hal ini diarasakan oleb pengusaha tahu goreng, H. Romli pengusaha tahu goreng dan juga sebagai kordinator lapangan dari Sedulur Pengusaha Tahu Indonesia ketika ditemui di pabrik tahunya di kawasan Depok kepada media ini mengatakan, saat ini kami tidak bisa berbuat banyak, karna ketika harga tahunya kami naikan, terbentur dengan daya beli masyarakat yang saat ini sedang terdampak pandemi Covid-19. ujarnya.

Lebih jauh H. Romli mengatakan, saat ini yanv masih bertahan pengusaha tahu yang masih punya tabungan, itupun tidak banyak membantu, ditambahkannya, saya dalam 2 (dua) bulan belakangan ini masih bisa utang kedelai, tapi itu juga tidak bisa bertahan lama, karna tabungan saya saat ini sudah habis. ujarnya.

Untuk mensiasati tidak terlalu merugi, kata dia, paling ukuran tahunya kami kecilkan, itupun tidak banyak membantu meringakan ongkos produksi kami, tambahnya, karna biaya produksi per kuintal mencapai 12 ribu Rupiah, tandasnya.

Dikatakannya, dari 32 pengusaha tahu yang tergabung dalam SPTI (Sedulur Pengusaha Tahu Indonesia) yang berdomisili di Depok, sudah ada 4 pabrik tahu yang tutup. terang H. Romli.

Deden als Buluk (Pengusaha tahu, anggota SPTI)

Senada dengan H. Romli, Deden salah satu pengusaha tahu yang berdomisili di kota Depok dan juga anggota SPTI kepada media ini mengatakan, saat ini kami pemgusaha tahu maju kena mundur kena, kalau kami stop produksi, tambah Deden, anak isteri karyawan saya makan apa, keluh Deden.

Ditambahkan Deden atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrabnya Buluk pria asli Betawi ini, akibat dari Protokol Kesehatan di Depok yang mewajibkan pemgusaha pecel lele yang boleh buka dsri jam 18:00. hingga pukul 20:00, WIB dan Warteg di tutup, itu yang menyebabkan kami merugi karna memang pasar kamo pemgusaha tahu putih ya,,,, memang itu yang paling besar komsumen kami, dikatakanya, kalau tahu kamo gak laku, yang untung peternak bebek, karna, kata Deden, peternak bebek lah yang membeli tahu kami, karna tahu itu tidak bisa tahan lama, karna akan basih. terangnya.

” Kami pengusaha tahu inginkan ada solusi dari Pemerintah, apakah harga bahan bakunya di diturunkan, atau harga tahunya yang dinaikan”, tambah Deden, atau dikembalikan lagi pengelolaannya ke Bulog, agar tidak ada lagi pemain pasar atau cukong. tegasnya.

Penulis : Vincent

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.