Dirjen Bimas Katolik 2011-2014 DRS. ANTON SEMARA DURAN, SE Tutup Usia

Biodata
Nama lengkap : Drs. Antonius Semara Duran, SE
Tempat/Tgl. Lahir : Karing-Adonara, 24 Mei 1953
Tempat tinggal : Depok- Jawa Barat
Pendidikan : S1 Administrasi Negara, D3 Ekonomi
Pekerjaan : PNS/ASN
Jabatan Terakhir : Dirjen Bimas Katolik
Status Perkawinan : Kawin (1 istri) dan (3 anak)
Meninggal ; 14 Juli 2020

Sotarduganews, Depok — Dirjen Bimas Katolik periode 2011-2014, Drs. Anton Semara Duran, SE yang terkenal selalu gembira dan bersemangat ‘muda’ itu kini telah tiada. Semua kisah indah digoreskan dan karya mulia yang ditorehkan pada setiap jejak aktif rutinitasnya bersama keluarga dan rekan sejawat, kini tinggal kenangan. Dia yang telah jadi kebanggaan keluarga, suku dan panutan warga serta kawan dan sahabat itu telah dipanggil pulang kepada Yang Mengutusnya. Dia yang memberi…, Dia pulalah yang mengambil. Tugas perutusan telah berakhir.

Untuk mengenal lebih jauh agar dapat mengenang kisah indah dibalik duka perjuangannya, kita perlu membaca Biografi singkat berjudul ‘ANTON SEMARA DURAN, DIASUH PAMAN DIASAH IBU JADI ‘ATADIKEN’ yang ditulis oleh seorang wartawan senior pada Januari 2020 silam.
ALKISAH. Anton Semara Duran adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara buah hati pasangan Yoseph Kebesa Raya dan Lusia Bengan Tokan ( keduanya sudah almarhum ). Putera bungsu pewaris keturunan Kebesa Raya ini, lahir pada 24 Mei 1953 di desa Karing pulau Adonara-Flores Timur. Ia terlahir dari keluarga petani tulen sederhana, namun cukup terpandang, bukan saja sebagai tuan tanah, tetapi juga karena loyal dan berintegritas tinggi. Tidak heran, keluarga ini mampu ‘mencetak’ pastor pertama di desa yang penuh kabut tanpa hujan itu dalam diri Rm. Frans Amanuen, Pr. (alm).

Dalam kultur Lamaholot yang kental keenam bersaudara ini dibesarkan dan dididik. Mereka mengalami dan menikmati kegembiraan bersama kedua orang tuanya. Namun di tengah keceriaan keluarga itu, tanpa tanda dan gejala, musibah datang menimpah. Bapak Yosef Kebesa direnggut maut meninggalkan sang istri, Lusia Bengan dan ke-6 anaknya. Ia pergi menghadap Sang Pencipta pada tahun 1958. Bapa pergi ta’kan kembali ketika Anton baru berusia 5 tahun. “Tak terbayang sama sekali bagaimana potongan/jahitan Bapak saat itu. Saya hanya memandangnya dari peninggalan foto hitam putih yang tergantung di tembok rumah”, kenang Anton dalam tulisannya.

Sejak saat itu mama Benga harus menyandang peran ganda, sebagai ibu sekaligus bapak. Semua beban kehidupan keluarga berada di pundaknya. Walau tanpa pendidikan, bahkan cuma bisa bahasa Lamaholot, namun berkat kerja keras dan kesetiaan mama, Puji Tuhan salah seorang putera keempatnya menjadi Imam Projo Keuskupan Larantuka, pastor pertama desa Karing.

Karena ibah dan prihatin akan perjuangan keras mama Benga, walau baru berusia 5 tahun, Anton rela diambil untuk diasuh oleh adik mama Benga ( Paman ), Petrus Semara Korebima yang saat itu sebagai Camat Flores Timur Daratan di kota Larantuka.

Pendidikan

Melalui tangan Paman Petrus, Anton Semara mulai merambah pendidikkan dari TK Balela ( sekarang TK Mater Dei) asuhan suster-suster SSpS, Sekolah Rakyat ( sekarang SD ) Don Bosco sampai kelas 3 karena ada pemekaran sehingga berpindah ke Sekolah Rakyat Kanisius di desa Lokea sampai tamat kelas enam.

Di tingkat pendidikkan menengah pertama, Anton hanya satu tahun di SMP Pancratio Sandominggo-Larantuka dan diteruskan ke kampung halaman di SMP Lembah Kelapa desa Kiwangona, lantaran ingin membantu mama di kampung. Tingkat menengah atas pun, Anton memilih SMA Surya Mandala di Waiwerang biar terus berjuang bersama ibunda hingga selesai pada tahun 1972.

Hidup di tengah keterbatasan, tidak membuat surut langkah mama Benga. Tekadnya bulat, terutama putera bungsunya harus menjadi manusia yang berpendidikan ( bahasa mama : jadi Atadiken=jadi orang sukses).

Berkat dorongan dan niat baik mama Lusia, walau dengan langkah gontai, perasaan campur aduk dibalut kabut pagi di tahun 1974 itu, Anton terpaksa meninggalkan mama dan keluarga menuju Surabaya dengan KM. Ratu Rosari. Dari Surabaya Anton meneruskan perjalanan ke Yogyakarta kota tujuannya. Di sanalah putra bungsu Kebesa Raya ini mulai memasuki jenjang perguruan tinggi di IKIP SANATA DHARMA ( saat ini Universitas ), kampus yang diimpikan ketika di bangku SMA.

Tahun 1978 Anton menyandang gelar sarjana ( D3 ) Ekonomi dari Fakultas Ilmu Sosial jurusan Ilmu Ekonomi Umum. “Walau belum bisa apa-apa namun minimal harapan mama setengah terpenuhi, bahwa anaknya sudah setengah manusia”, ujar Semara Duran.

Berbekalkan Ijazah D3 dan tekad kuatnya menjadi guru, Anton Semara tak ingin ketinggalan kereta. Awal tahun 1979 sang sarjana ekonomi baru ini pun angkat kaki menuju kota metro politan, Jakarta Raya dan mulai menapaki perjalanan hidupnya di ibu kota.

Perjalanan Karier.

Anton memulai awal kehidupannya di Jakarta tahun 1979 dengan menumpang di rumah keluarga Katarina Ema Woka, kakak sepupu yang kebetulan bersuamikan Herman Josef Palangama, ketika itu sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik Kementrian Agama RI. Karena berniat menjadi guru sejak kecil, Anton mulai coba melamar ke berbagai sekolah namun semua sekolah menolaknya dengan beragam alasan. Nasib membawanya ke Kementerian Agama tepatnya Direktorat Jenderal Bimas Katolik, yang sesungguhnya bukan minat dan impiannya.

Setelah lulus tes dan diterima sebagai pegawai baru di medan tugas yang sungguh sangat awam, Anton mulai belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan rekan sejawat. Sebagai pegawai masa percobaan, upah yang diterima hanya untuk menghidupkan diri pun masih jauh dari cukup. Anton merasa tertolong karena tinggal di rumah keluarga.

Memasuki tahun ke empat masa kerja, walau penghasilan belum terlalu meyakinkan namun maulai percaya diri. Ia memberanikan diri untuk melangkah ke fase hidup berikutnya yakni melepaskan masa lajang. Anton menikah di tahun 1983 dengan Maria Ema Duli yang juga berasal dari Adonara desa Lewobunga. Tuhan menitipkan 2 putera yakni WILLYBRODUS EKO BUNGA, MARCELINUS KEBESA RAYA TOKAN [alm], dan 1 puteri EMERENSIA NOVITA KEWA KUMA untuk mereka. “Kini pernikahan kami menginjak 37 tahun. Terima kasih isteriku yang telah mendampingiku dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, teristimewa 3 putera Tuhan titip lewat rahimmu”, aku Anton.

Dalam situasi keluarga yang serba kekurangan, Anton mencoba upaya lain untuk mencari tambahan penghasilan agar semua kebutuhan dasar rumah tangga dapat teratasi. Maka selain menjalankan tugas utamanya sebagai PNS/ASN di pagi hingga siang, waktu sisa di sore harinya Anton mengajar di SMP. Selama 15 tahun Anton mengajar pada SMP ‘PELITA HATI’ di daerah Karet ( sekarang Casablanca ) Jakarta Selatan.

Berkat prestasi kerja yang mumpuni, setelah empat tahun sebagai karyawan, Semara Duran diangkat menjadi Kepala Seksi. Selanjutnya jenjang karirnya terus meningkat hingga menduduki posisi Kasubdit Sarana Keagamaan. Pada posisi inilah Anton yang baru bergelar D3 Ekonomi ini diminta studi lanjut ke S1 agar bisa disesuaikan dengan syarat kepangkatan. “Pada posisi inilah saya diminta untuk sekolah lagi menambah ilmu tentang Administrasi Negara , dan berhasil mendapat S1 di UNKRIS ( Universitas Krisna Dwipayana )” tutur Anton.

Dua tahun setelah putera keduanya meninggal, 2010, Sarjana Administrasi baru ini pun ditunjuk Dirjen, Drs.Stef Agus untuk menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal ( SEKDITJEN ) Bimas Katolik. Menjelang pensiunnya Drs. Stef Agus, Anton Semara diusulkannya untuk menduduki posisi Dirjen Bimas Katolik dan sempat merangkap Plt. Dirjen sebelum diangkat menjadi Dirjen definitif. Bulan Mei 2011 secara resmi dilantik oleh Menteri Agama Surya Dharma Ali menjadi Direktur Jenderal Bimas Katolik hingga pensiun 1 Januari 2014.

Sebagai pejabat Negara tentu banyak hal telah dibuatnya untuk rakyat bangsa ini, terutama masyarakat katolik. Beberapa sumbangan yang mungkin tidak berarti seperti, pertama: bagaimana membuat institusi Bimas Katolik dapat hadir di tengah umat dengan cara memberikan pelayanan. Belum lagi merubah mindset Birokrasi yang sudah bercitra buruk ‘sebagai bos’ selama ini untuk menjadi ‘Pelayan’. Kedua: Menjelaskan tentang apa tugas Bimas Katolik kepada para pejabat Gereja dengan cara mengajaknya sebagai MITRA KERJA. Dalam konteks ini Bimas Katolik dan institusi Gereja Katolik memiliki kedudukkan yang setara dan saling melengkapi. Pemerintah tidak akan mencampuri urusan Gereja demikian pula sebaliknya.
Dengan demikian, menurut Anton, Gereja menerima kehadiran Bimas Katolik tanpa ada rasa curiga karena sudah terbangun saling percaya. Melalui proses Kemitraan tersebut, perlahan tapi pasti Pemerintah dan institusi Gereja Katolik saling bergandengan tangan, memberikan pelayanan terbaik kepada umat Katolik yang satu dan sama.
Melalui dua unit pelaksana dalam area tugas dan kewenangan Bimas Katolik seperti:
a. Bidang Urusan Agama Katolik yang meliputi Bantuan Rehabilitasi gedung gereja, Pengangkatan Penyuluh Agama non PNS dan honorariumnya, bantuan Cuma-cuma Kitab suci dan buku-buku keagamaan, bantuan dana untuk kegiatan-kegiatan keagamaan/rohani yang diselenggarakan masyarakat Katolik., bantuan untuk perbaikan sarana/prasarana lembaga-lembaga keagamaan, Pembinaan kepada Penyuluh/Juru Penerang Agama Katolik.

b. Bidang Pendidikan Agama Katolik
(1) Pemberian BOP ( bantuan operasional pendidikkan ) baik perguruan tinggi Agama maupun Sekolah menengah Agama Katolik ( SMAK ).
(2) Bantuan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan di lembaga-lembaga pendidikkan tersebut.
(3) Penyusunan Kurikulum PTAKS ( Perguruan Tinggi Agama Katolik Swasta ) dan SMAK, kerja sama dengan pihak Gereja Katolik.
(4) Memberikan ijin kepada PTAKS dan SMAK yang didirikan Keuskupan setempat.
(5) Melakukan Supervisi kepada PTAKS/SMAK.

Singkatnya Pemerintah (Bimas Katolik) bermitra dengan Komisi-komisi di KWI, Komisi-komisi Keuskupan bahkan Paroki setempat sehingga beberapa program tersebut dapat terlaksana dan dinikmati umat katolik di seantero negeri. Tentu tidak memuaskan karena kemampuan pemerintah (Bimas Katolik) terbatas. Akan tetapi jika umat mensuport maka Bimas Katolik sebagai perwakilan umat katolik di pemerintah akan lebih maksimal dalam upayah mengeksekusi program yang ada demi pelayanan terhadap kebutuhan umat. “Ladang Tuhan begitu luas, namun kemampuan Pemerintah terbatas, maka dukungan umat menjadi sangat penting”, kata Anton.

Memasuki masa purna bhakti.

Di usia 60 tahun saat memasuki 34 tahun 8 bulan masa bakti sebagai Abdi Negara, Anton Semara Duran harus meletakkan jabatan dan segala fasilitas yang dinikmati selama menjadi pejabat. Tugas terberat menjelang purna bakti adalah mempersiapkan mental keluarga (isteri-anak) untuk menerima kenyataan ketika semua fasilitas dan kemudahan tidak lagi dimiliki dan harus dikembalikan kepada Negara.

Tugas berikutnya menurut Anton adalah bagaimana mempersiapkan diri agar dapat menyesuaikan diri dan pekerjaan baru jika masih ingin berbakti dan bermanfaat bagi banyak orang di sisa usia yang ada. Karena selain usia 60 tahun sesungguhnya masih cukup tenaga untuk bekerja, sebaliknya langsung berhenti total setelah pensiun dari kesibukan rutin yang hampir tak kenal waktu pun sangat berbahaya bagi kesehatan fisik.

Dan bukan kebetulan jika usai masa bakti, Anton Semara langsung terlibat pada Ladang Tuhan yang baru Yayasan Yayasan Yohanes Paulus Depok yang mengelola lembaga pendidikan Dasar dan Menengah milik Keuskupan Bogor. Sebagai pengurus yayasan, Anton bersama pengurus lainnya serta para guru dan orang tua, termasuk pemerintah daerah setempat sebagai mitra kerja, mendidik anak-anak dan mendengar semua masukan untuk dikaji demi mencari solusi dan menentukan langkah demi peningkatan mutu pendidikan bagi anak didik. Semuanya dilakukannya dengan tulus iklas dan penuh pengorbanan. “Satu hal yang tak boleh diabaikan adalah Kami memberi semua yang kami miliki DENGAN HATI”, ungkap Anton mengakhiri kisahnya.

Kini Anton Semara telah pergi untuk tidak kembali lagi. Tuhan telah menjemputnya di RS. Hermina pada Selasa, 14 Juli 2020 menyusul operasi ususnya pada bulan April 2020. Mulai dari pastor paroki, dewan pastoral paroki lewat Maria Klara Wulandaru, Yayayasan Yohanes Paulus oleh Pius Sani Herin dan pihak kelurga melalui Gabriel Hong Gere, hingga umat paroki yang hadir lewat menyanyikan lagu kesayangan almahrum ‘’INA MARIA’’, adalah ungkapan rasa duka karena kehilangan, sembari mengenang jasa-jasa baiknya sekaligus memberi hiburan dan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tidak ketinggalan pula Uskup Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Bogor karena tidak sempat hadir, menyampaikan rasa dukanya lewat WA melalui mantan Ketua PMKRI Cabang DKI, Asis Wayon; ‘’Selamat pagi anak Asis. Sampaikan turut berdukcita dari saya untuk semua keluarga Lamaholot di Jakarta atas meninggalnya Pa’ Anton Semara. Juga kepada isteri dan anak-anak Kami doakan keselamatan jiwanya’’, tulis Uskup Paskalis.

Penulis — bern

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.