Daniel Sihombing, Sang Pejelajah Nusantara Tiba di Morotai

Sotarduganews, Morotai — Kisah Penjelaja Nusantara asal Medan, Suku Batak Daniel Sihombing yang melakukan perjalanan mulai dari Kilometer Titik Nol Indonesia “Sabang” sejak bulan April 2017 hingga 27 Februari 2020 tiba di Morotai Provinsi Maluku Utara.

Daniel ketika berbincang dengan Forum Jurnalis Online Morotai (FJOM) Jumat 28 Februari 2020 dirinya menceritakan kisahnya sebagai Penjelaja Nusantara mulai dari titik Nol Indonesia sampai di Kabupaten Pulau Morotai menggunakan Motor Roda Dua Astria Green Tahun 1992.

Kisah Daniel Sihombing, tinggal 2 bulan lagi perjalanannya genap 3 tahun lamanya mulai dari Titik Nol Indonesia sampai di Kabupaten Pulau Morotai. Ungkap Daniel kepada FJOM

Sebelum sampai di Morotai, Daniel mulai menjelaja Kota Sabang dan mensisir Pulau Sumatra sekitar 4 sampai 5 Bulan lamanya, setelah itu, Daniel kembali menjelaja Pulau Jawa dengan waktu yang sama yakni 4 sampai 5 bulan lamanya.

Selnjutnya Daniel melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa dan Pulau Flores, perjalanan ke empat pulau tersebut hanya menghitungan minggu saja karena pulaunya tidak terlalu besar.

Selanjutnya Daniel kembali ke Pulau Jawa untuk transit ke Semarang untuk melanjutkan perjalanan menjelaja ke Pulau Borneo yaitu Kalimantan dengan durasi waktu kurang lebih 4 bulan lamanya Daniel menjelajahi Pulau Borneo tersebut.

Daniel kembali menujuh Kalimantan Utara untuk melanjutkan menjelajahi Pulau Sulawesi, di Pulau Sulawesi menurut Daniel Pulaunya besar dan berbentuk huruf K, maka dari itu untuk menjelajahi Pulau tersebut Daniel memakan waktu hingga 5 sampai 6 bulan lamanya.

Pengembara Daniel tak berhenti di situ saja, Daniel melanjutkan perjalanan ke Maluku Utara, di Maluku Utara tepanya di Kota Ternate, Daniel mulai menjelaja ke Kota Tidore, Jailolo, Tobelo dan hingga Morotai pada hari ini, Daniel berada di Maluku Utara sudah 3 bulan lamanya.

Selain itu, Daniel juga menjelaskan bagaimana menyebrang lautan, apa bila anggaran perjalannya makin menipis, Daniel berusaha berkordinasi dengan pihak pelayaran atau Kepala Syabandar untuk bagaimana menumpang perjalanan, namun jika harga tiketnya tidak mahal Daniel pastinya mengikuti antrian Tiket Kapal.

Dalam sebuah perjalanan menjelajahi suatu wilayah, dan apabila uang perjalanannya makin menipis, Daniel berusaha mencari pekerjaan harian untuk mencukupi kebutuhan perjalanan selanjutnya.

Setiap kunjungan di setiap Wilayah, Provinsi atau Kabupaten Daniel berusaha untuk mendapatkan setifikat baik Pemda atau Militer setempat dengan tujuan sebagai buktinya perjalanannya.

Otomatis dalam setiap perjalanan menujuh ke masing-masing daerah, agar dapat mempermuda misi menjelajahi daerah tersebut, Daniel berusaha dengan bertanya-tanya kepada masyarakat yang sempat ia bertemu untuk bertanya mengenai titik-titik sejarah yang bisa ia kunjungi.

Dalam menjelajahi Indonesia ini, Daniel di nakodai motivasi dengan ingin belajar menjadi manusia yang sebenarnya dan melihat langsung tempat bersejarah di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Saat ini sudah beribu suku saya perna bertemu dan bagaimana saya bisa masuk. Pengalaman ini juga mengajarkan saya sebuah kesabaran, perjalanan ini juga mengajarkan menjadi diri sendiri dan buang masa lalu dan kejar masa depan. Karena disamping saya menjelaja saya juga bekerja.

Selama kurang lebih 3 Tahun Perjalanan, tantangan yang di dapati rata-rata hanya kehabisan Anggaran, seperti di Kalimantan, Sulawesi dan Ternate, namun komitmen Daniel, apabila anggaran mulai menipis Daniel harus berusaha bekerja harian untuk mencukupi kebutuhan perjalanan.

Terus bagaimana Daniel bisa tidur? Selama perjalanan jika terkadang bertemu dengan clup motor atau teman seketika, jika di ajak Daniel bakal numpang tidur namun selama perjalanan Daniel paling sering tidur di emperan Tokoh.

Tiba di Morotai Daniel sangat bersyukur bisa tinggal di Mes TNI karena telah bertemu dengan Dandim 1508 Tobelo/Morotai.

Sekitar Pukul 02:00 WIT. Jumat 28, Februari 2020 Daniel bertemu dengan Wartawan yang dalam FJOM untuk mendamping Daniel bertemu dengan Sekretaris Daerah Morotai Muhammad M.Kharie.

Saat petemuan dengan Sekda, tepatnya di Desa Pandanga, Sekda mengatakan morotai adalah miniatur indonesia kenapa demikian karena, seluruh suku bangsa ada di pulau morotai, sehingga morotai kaya akan ragam budaya.

Apabila budaya ini kita padukan menjadi satu maka menciptakan suatu budaya yang unik dan menarik. Perpaduan Itu sudah perna kita buat dan terciptalah suatu kolaborasi semua budaya di polau morotai.

Kedua katanya morotai tempo dulu adalah indonesia saat ini. Artinya saat ini banyak orang persoalkan kemacetan jakarta misalnya itu sudah di alami morotai tempo dulu.

Karena, morotai ini duluhnya tempat sekutu dalam sejarah perang dunia ke-II yang di tempati jenderal McArtur dan ribuan tentara sekutu serta peralatan termasuk kendaraanya yang menyebabkan kemacetan.

“Jadi jakarta belum macet saat ini morotai sudah alami macet saat itu makanya kita sebut Jakarta saat ini Morotai tempo dulu” katanya

Selain itu Morotai punya kekayaan yang luar biasa baik itu kekayaan sumber daya alam baik laut, darat, tempat wisata, maupum kekayaan peninggalan sejarahnya.

Sehingga saat ini pemerintah lagi berpacuh agar menghadirkan wisatawan sebanyak mungkin untuk berinvestasi di Pulau Morotai.

Kami berharap morotai di kenal oleh pemerintah pusat karena, dunia sudah mengetahui pulau morotai sejak dulu mereka bercerita seakan-akan tinggal di pulau Morotai.

Penulis : oje

Editor : red

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.