Air Tanah Boleng, Urus AIR BERSIH dengan ‘HATI BERSIH’

Sotarduganews, Adonara Flotim — Air bersih untuk masyarakat Tanah Boleng diprakarsai oleh misionaris Belanda Pater Jan Weys, SVD sejak tahun 1970. Dengan membangun kerjasama bersama tokoh-tokoh lewotanah mereka bergotong royong bahu membahu memasang jaringan pipa dari mata air WAI PEDANG-Puhu Kec. Adonara Timur menuju Tanah Boleng Kec. Ile Boleng. Hasil kerja swadaya masyarakat kala itu sungguh spektakuler dimana kebutuhan masyarakat akan air bersih di dua wilayah, baik Tanah Boleng sendiri pun Paroki Kiwang One Kec. Adonara Timur dapat terpenuhi bahkan berkelimpahan.

Foto: Tampak Teknisi, Mido Aryanto Boru, ST saat bergerak bersama masyarakat Tanah Boleng menyusuri lembah dan ngarai mengikuti jaringan pipa tua peninggalan P. Jan Weys, SVD untuk direhabilitasi demi mengembalikan sumber air bersih bagi masyarakat.

Namun sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya (SEMPAT MENGHILANG PULUHAN TAHUN, KINI WILAYAH TANAH BOLENG KEMBALI MENIKMATI AIR BERSIH- Sotarduganews, 9 Agst, 2020) jaringan air tersebut mulai tersendat dan nyaris tidak jalan selama 20-30 tahun. Namun dalam sebulan terakhir masyarakat Tanah Boleng kembali menikmati Air Minum Bersih dari jaringan peninggalan Pater Jan Weys tersebut.

Romo Aloys Dore Pr. Pastor Paroki Tanah Boleng saat ditemui Sotarduganews di kediamannya, Selasa (01/09/2020) mengatakan bahwa semua umat di paroki ini butuh air. “Selama ini umat mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan air bersih. Kita tidak bisa membiarkan kondisi seperti ini terus berjalan”, ujar Romo Alo.

Ketika ditanya apa yang melandasi keberhasilan dari upaya ini, dengan tegas beliau menjawab “Hati. Semua pihak harus punya HATI BERSIH untuk mengurusnya. Hati bersih untuk urus air bersih” ungkapnya bernada haru mengenang penderitaan umat yang rindu akan sumber air bersih selama puluhan tahun. Dengan spirit dasar ini juga maka pihaknya bersama Pengurus Badan Pengelola Air Minum Paroki (BPAMP) bapak Yulius Peduli Hala dan bapak Mikhael Notan Leir mengajukan permohonan kepada Dinas PU Kabupaten Flores Timur untuk bisa mengutus seorang teknisi membantu BPAMP. Hal ini ditanggapi positif. Oleh Kabid Cipta Karya PU, Bapak Yoris Fernandez, ST. yang kemudian dipercayakan kepada Bapak Mido Arianto Boru,ST. sebagai pelaksana tugas teknis di lapangan.

Pak Mido kemudian melakukan survei, pemetaan dan solusi perbaikan jaringan. Hal ini dipresentasikan di hadapan para tokoh multi pihak yANg dihadirkan oleh Romo Aloys yang memang sangat peduli terhadap kebutuhan umat. Para Kepala Desa, BPD, Tokoh Masyarakat, Pengurus Dewan Paroki, Dewan Stasi dan Dewan Lingkungan yang disebutkan sebagai multi pihak ini sepakat siap kerja sesuai arahan teknisi yg ramah dan akrab dengan semua orang ini.

Ketika dikejar soal beratnya medan dan biaya, Romo kelahiran Kedang-Lembata ini membenarkan. “Medannya memang sangat berat dan penuh resiko. Justru pipa yang melintasi bukit dan lembah yang cukup terjal itulah yang dibenahi. Biaya juga cukup besar. Kita tidak punya dana untuk urusan ini. Tapi semangat gotong royong masyarakat menjadi modal utama kita. Intinya kearifan lokal harus menjadi perhatian. Hindari kepentingan-kepentingan sempit. Bangun kemitraan dengan para pihak”, aku Romo Alo.

Lebih jauh Romo Alo mengingatkan bahwa Pater Jan Weys, SVD bersama tokoh-tokoh pendahulu meninggalkan mutiara yang sangat berharga ini untuk kita. Untuk itu seluruh umat hendaknya tetap dalam kebersamaan secara rukun dan guyub menikmati air yang sudah menyatukan itu. “Air minum yang telah mempersatukan ini harus tetap dipertahankan agar 13 desa pemanfaat tetap rukun bersatu dalam berbagai aspek kehidupan”, tutur Gembala Umat ini.

Hal senada juga disampaikan Pak Mido selaku Teknisi ketika ditemui di sela-sela kesibukanya. Diakuinya bahwa ketika melihat kondisi jaringan dan medan, dirinya merasa tertantang. Namun karena ketulusan niat dan hati mau membantu dari sisi teknis, juga didukung oleh semangat yang membara dari masyarakat dengan mengedepankan kearifan lokal maka pihaknya sungguh yakin akan lancar dan berhasil.

“Pertama datang dan melihat kondisi jaringan, saya merasa tertantang. Saya siap membantu dari sisi teknis. Intinya semangat yang ada tetap dijaga. Kearifan lokal tetap diperhatikan. Ini sangat membantu kita dalam pekerjaan. Pembenahan jaringan yang saya perhitungkan bisa sampai dua minggu lebih, kita selesaikan dalam empat hari. Kalau semangat seperti ini. Saya siap hadir kapanpun diminta sampe pekerjaan tuntas”, uncap Teknisi muda itu.

Lagi menurut Teknisi Muda jebolan UNIKA Widya Mandira Kupang ini, bahwa sebenarnya volume air yang masuk di Tanah Boleng ini masih bisa ditingkatkan. “Broncecaptering di mata air dan jaringan pipa yang usianya sudah tua memang cukup memprihatinkan. Di mata air masih banyak air terbuang yang bisa ditangkap. Tapi ini bituh biaya yang cukup besar. Kalau ada kerjasama dengan Pemerintah dan pihak lain yang peduli, tentu kita bisa terbantu”, tutup Mido.

Penulis : Beda
Editor : bern

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.