Hadapi Gempuran Modernitas Pasar Tradisional Harus Direvitalisasi

Sotarduganews, Jakarta – Presiden Joko Widodo dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Tahun 2018 mengatakan hingga tahun 2017 pemerintah telah membangun atau merevitalisasi 2.660 pasar di seluruh Indonesia.

Demikian siaran pers biro pers istana Bey Machmudin yang diterima wartawan hari ini.

Dalam Pembukaan Rakernas yang digelar di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, dan dihadiri perwakilan dari pengelola pasar di seluruh Indonesia Presiden Joko Widodo menceritakan bahwa saat dirinya masih menjadi Wali Kota Solo, Pasar-pasar yang sebelumnya semrawut, kumuh, dan kurang tertata disulap menjadi pasar yang lebih nyaman bagi para pengunjungnya.

“Itulah kecintaan saya kepada pasar rakyat. Dibangun semuanya dari pasar yang becek, tidak teratur, tidak rapi, tidak ada tempat parkir, bau, menjadi sebuah pasar yang ada tempat parkirnya, bersih, tertata, tidak bau. Saya kira memang konsumen menghendaki yang seperti itu,” ujarnya.

Kemudian, saat menjadi Presiden, lanjut Kepala Negara, angka tersebut melonjak naik. Hingga tahun 2017 lalu pemerintah telah membangun maupun merevitalisasi sebanyak 2.660 pasar di seluruh Tanah Air.

“Ditambah 2018 kurang lebih 1.500-an. Masih plus pasar-pasar di desa yang telah kita bangun sebanyak 6.500 pasar desa. Meskipun kecil-kecil tapi ini sangat bermanfaat bagi ekonomi di pedesaan,” imbuhnya.

Calon Presiden nomor urut 1 ini memang menaruh perhatian besar bagi keberlangsungan pasar rakyat. Menurutnya, pasar-pasar tradisional merupakan tempat bagi hasil-hasil petani maupun nelayan lokal untuk dijajakan kepada para konsumen.

“Pasar rakyat memang memerlukan perhatian khusus agar eksistensi pasar itu betul-betul tetap bisa survive di tengah gempuran hipermarket, pasar-pasar modern, yang hampir di semua kota sekarang ini ada,” tuturnya.

Selain itu, pasar tradisional apabila dikelola dan dikembangkan lebih jauh memiliki potensi untuk dapat bersaing dengan pasar-pasar modern. Dari sisi harga produk yang diperdagangkan misalnya, pasar tradisional lebih unggul dibanding pasar-pasar modern.

“Secara daya saing pasar kita ini menang, tapi memang jangan dibiarkan pasar ini kumuh, becek, dan tidak ada tempat parkir. Ini tugas dari kementerian dan pemerintah untuk memperbaiki. Juga tugas BUMD dan swasta untuk menata agar pembeli tetap mau ke pasar,” ucap Presiden.

Digitalisasi Pasar Tradisional :

Selain revitalisasi fisik, mantan Walikota Solo juga menyampaikan pandangannya bahwa di era teknologi informasi sekarang ini, sudah sewajarnya bagi pasar tradisional untuk turut memanfaatkannya. Menurutnya, perlu dibangun sebuah ekosistem yang mampu mempertemukan keunggulan dari teknologi informasi dengan pasar-pasar tradisional.

“Perlu dibangun sebuah ekosistem yang online dan offline ini bisa sambung. Kalau sambung pasar ini pasti akan cepat berkembang,” ucapnya.

Dengan memanfaatkan teknologi seperti aplikasi jual-beli daring misalnya, konsumen yang biasa berbelanja di pasar tradisional akan mendapat kemudahan dengan bertransaksi melalui aplikasi.

“Kalau tersambung, semua produk yang ada di pasar bisa langsung dipesan dan sampai ke rumah dalam waktu tidak lebih dari 30 menit,” tuturnya.

Presiden juga mendorong para pengelola pasar untuk menyediakan pilihan metode pembayaran nontunai bagi para pelanggan pasar dan memberikan pelatihan bagi para pedagang untuk memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut. Dengan cara itu, Kepala Negara yakin bahwa pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar-pasar modern lainnya.

“Sejak awal saya menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di pasar saya meyakini itu bisa bersaing. Hanya memang manajemennya perlu kita perbaiki bersama-sama,” tandasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Joko Setyanto.

Penulis/Editor : ben

Mungkin Anda Menyukai